Ringkasan Buku Rich Dad Poor Dad

Buku Rich Dad Poor Dad
Buku yang saya ringkas ini sudah saya baca waktu lulus kuliah. Boleh dibilang, buku inilah yang membuat saya tertarik untuk mempelajari tentang literasi keuangan. Buku ini berjudul Rich Dad Poor Dad yang ditulis oleh Robert Kiyosaki.

Buku Rich Dad Poor Dad terdiri dari beberapa bagian :
  1. Introduction;
  2. 9 Chapter; dan 
  3. Final Thought.

Introduction

Ilustrasi beda sudut pandang
Introduction buku Rich Dad Poor Dad ini menceritakan bahwa Robert Kiyosaki memiliki dua orang yang berpengaruh dalam kehidupannya, yang satu adalah ayahnya sendiri sedangkan yang lain adalah ayah temannya. Kedua ayah tersebut memiliki latar belakang dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat Robert memiliki dua sudut pandang yang kontras terhadap beberapa hal khususnya masalah uang.

Dalam bagian perkenalan buku Rich Dad Poor Dad disebutkan bahwa salah satu alasan orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin dan kelas menengah terjebak dalam hutang adalah pelajaran tentang uang diajarkan di rumah, bukan di sekolah. Kebanyakan dari kita belajar tentang uang dari orang tua.

Bagian introduction ini juga memberikan beberapa contoh perbedaan sudut pandang seperti, ayah yang satu memiliki kebiasaan mengucapkan "I can't afford it", sedangkan ayah yang lain melarang menggunakan ucapan itu melainkan menanyakan "how I can afford it?" supaya otak dipaksa berpikir.

Contoh lainnya dalam memandang kepemilikan rumah, ayah yang satu menganggap rumah adalah aset sedangkan yang lain memandangnya sebagai kewajiban. Bagian ini memberikan penjelasan mengenai perbedaan pola pikir dan kebiasaan dari Rich Dad dan Poor Dad, khususnya mengenai pengetahuan dalam mengelola keuangan.

Bagian perkenalan ini diakhiri dengan puisi dari Robert Frost yang berjudul The Road Not Taken, serta memperkenalkan enam pelajaran keuangan yang diajarkan oleh Rich Dad yang akan dibahas pada enam chapter selanjutnya. Money is one form of power. But what is more powerful is financial education.
The road not taken

Chapter One. Lesson 1: The Rich Don't Work for Money

Robert bercerita tentang masa kecilnya ketika berusia 9 tahun. Saat itu Ia merasa miskin karena sekolah diantara anak-anak orang kaya, yang miskin di sekolahnya hanyalah Robert dan seorang temannya bernama Mike. Suatu ketika, teman sekolah mereka yang bernama Jimmy pergi berlibur di resort milik orang tuanya, namun Robert dan Mike tidak diajak karena mereka miskin. Robert bertanya pada ayahnya, bagaimana cara menjadi kaya, dan ayahnya menjawab yaitu bekerja untuk mendapat uang. Robert dan Mike mencoba berbisnis kecil-kecilan namun gagal karena yang mereka lakukan ternyata illegal. Akhirnya, ayah Robert menyarankan supaya mereka belajar dari ayah Mike yang ternyata seorang pebisnis yang pandai mencetak uang, hal tersebut diketahui ayah Robert karena ayah Robert dan ayah Mike memiliki banker yang sama, banker tersebut sering memuji ayah Mike yang pandai menghasilkan uang. Ayah Robert bekerja untuk pemerintah dan ayah Jimmy bekerja untuk perusahaan, namun ayah Mike adalah seorang pebisnis.

Singkat cerita, Robert dan Mike bertemu di rumah ayah Mike. Rumah itu kecil dan sederhana, namun bersih. Lantai rumah itu pun sudah tua dan beberapa perabot sudah layak untuk diganti. Di rumah kecil itu, sering datang manajer restaurant, supervisor pekerjaan konstruksi, dan pengawas gudang yang bekerja untuk ayah Mike. Ayah Mike inilah yang disebut Robert sebagai Rich Dad.

Rich Dad menawarkan supaya mereka bekerja untuknya agar ayah Mike dapat mengajari mereka atau tidak mendapatkan pelajaran sama sekali. Tentunya Robert harus merelakan kegiatannya bermain jika mengambil penawaran ini. Akhirnya, Robert dan Mike mulai bekerja untuk Rich Dad.

Long story short, Robert komplain ke Rich Dad karena bayaran yang diterimanya terlalu kecil. Namun, alih-alih mendapat kenaikan gaji, Robert malah ditawari bekerja tanpa bayaran jika masih ingin belajar tentang cara uang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang. Dari sinilah pelajaran dimulai, Robert dan Mike bekerja tanpa dibayar.

Pada suatu sore, Rich Dad berkunjung ke toko dan mengajak mereka berdua jalan-jalan dan mengadakan suatu perbincangan, Rich Dad berbicara mengenai sesuatu yang membuat manusia bekerja untuk uang, yaitu emosi dasar manusia: fear dan greed. Fear membuat manusia bekerja karena takut tidak mempunyai uang, setelah mendapatkan uang, bahkan dengan naiknya jumlah uang yang didapatkan, greed mulai muncul. Manusia mulai membeli barang-barang baru dan akhirnya terjebak dalam hutang. Lingkaran itulah yang dinamakan Rat Race. Menggunakan pikiran untuk mengendalikan kedua emosi merupakan cara untuk keluar dari Rat Race tersebut.

Chapter 1 buku Rich Dad Poor Dad diakhiri dengan Robert dan Mike yang membuka usaha perpustakaan karena melihat peluang dari tempat mereka bekerja tanpa dibayar. Walaupun hanya bertahan tiga bulan karena ada gangguan dari anak-anak tetangga sebelah, namun mereka belajar supaya uang bekerja untuk mereka.

Chapter Two. Lesson 2: Why Teach Financial Literacy

Pada lesson 2 ini, Robert bercerita puluhan tahun setelah pertemuannya dengan Rich Dad. Lesson 2 ini diawali dengan cerita mengenai orang-orang kaya pada zamannya yang berakhir tragis karena tidak memiliki financial literacy yang baik. Ya, kamu tidak salah baca, mereka ada orang-orang kaya yang memiliki jabatan penting seperti CEO, direktur, spekulan pasar saham yang sukses, dan lainnya. Mereka memiliki penghasilan besar namun berakhir dengan hutang, kecanduan obat terlarang, bahkan bunuh diri. Semua itu disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang keuangan.

Financial literacy merupakan pondasi yang kuat. Sebagaimana jika kita ingin membangun gedung pencakar langit, maka kita harus membuat pondasi yang dalam. Berbeda jika kita hanya ingin membangun rumah tinggal sederhana, pondasi yang tidak terlalu dalam sudahlah cukup. Namun sayangnya banyak orang yang ingin membangun gedung pencakar langit namun pondasinya dangkal seperti pondasi rumah tinggal.

Robert menjelaskan peraturan sederhana supaya menjadi kaya. Peraturan itu adalah membedakan aset dan kewajiban, kemudian membeli aset. Aset adalah sesuatu yang membawa uang masuk ke kantong kita, sedangkan kewajiban membuat uang keluar dari kantong kita. Peraturan sederhana ini dilakukan oleh orang kaya, namun tidak oleh kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang miskin hanya memiliki beban pengeluaran, dan orang kelas menengah membeli kewajiban yang dikira aset. Contoh yang diberikan Robert adalah dalam membeli rumah, orang miskin dan kelas menengah menganggap rumah adalah aset yang paling berharga, sedangkan bagi orang kaya rumah adalah kewajiban.

Chapter Three. Lesson 3: Mind Your Own Bussiness

Pelajaran ketiga mengambil contoh Ray Kroc, banyak orang mengira bahwa ia berbisnis jualan hamburger. Memang benar dia menjual franchise hamburgernya, namun lebih dari itu, Ray berbisnis properti.

Robert menjelaskan kembali hal yang ia bahas di lesson 2, kebanyakan orang bekerja untuk perusahaan tempat ia bekerja, bekerja untuk pemerintah melalui pembayaran pajak, dan bekerja untuk bank untuk membayar tagihannya. Banyak orang mengira profesinya adalah bisnisnya. Contoh, Robert bertanya kepada seorang banker, bisnis apa yang banker tersebut jalani. Banker tersebut menjawab bahwa, ia bisnis bank. Namun, saat ditanya apakah ia memiliki bank tersebut, ia menjawab tidak.

Banyak orang tidak "Mind Your Own Bussiness", begitulah kata Robert. Maksudnya, setiap orang seharusnya memiliki aset dan memikirkan asetnya tersebut. Aset tersebut sebaiknya sesuatu yang disukai, karena seseorang akan lebih senang melakukan hal-hal yang ia sukai. Robert memberi contoh aset yaitu wirausaha yang pemiliknya tidak perlu bekerja di situ, saham, obligasi, real estate, dan lain-lain. Robert sendiri menyukai real estate dan saham perusahaan start up.

Chapter Four. Lesson 4: The History Of Taxes and The Power Of Corporations

Bagian keempat buku Rich Dad Poor Dad diawali dengan asal muasal berlakunya pajak di Britain dan United States. Disebutkan bahwa awalnya pajak digunakan untuk mengambil dari si kaya ke si miskin. Pajak awalnya digunakan untuk keperluan perang, tetapi akhirnya diberlakukan secara terus-menerus.

Si kaya tidak serta merta comply terhadap pajak, tetapi menemukan jalan untuk dapat melindungi diri dengan menggunakan entitas perusahaan. Perusahaan dibangun oleh si kaya supaya pengenaan pajak dikenakan setelah ada pengeluaran, simplenya earn-spend-tax sedangkan middle class dan si miskin earn-tax-spend.

Robert juga menjelaskan 4 hal yang harus dipahami supaya IQ financial meningkat, yaitu akuntansi, investasi, pasar, dan hukum.

Chapter Five. Lesson 5: The Rich Invent Money

Diawali dengan penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell, penolakan yang dialaminya hingga munculnya perusahaan AT&T. Robert menjelaskan kembali pentingnya mengembangkan IQ finansial. Perkembangan jaman selalu memberikan kesempatan yang berbeda pada setiap masanya, pada jaman dahulu, pemilik tanahlah yang terkaya, hingga hadirnya era industri sampai ke era informasi. Informasi membawa perubahan yang sangat cepat sehingga yang tidak dapat mengikuti perubahan itu akan tertinggal.

Kebanyakan orang mengikuti solusi permasalahan kuno yaitu kerja keras, menabung, dan meminjam uang. Di era yang berubah sangat cepat, solusi itu nampaknya sudah kurang relevan. Kita harus meningkatkan pengetahuan finansial, karena dengan kemampuan finansial yang baik, kita dapat menciptakan keberuntungan kita sendiri. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari bahwa keberuntungan itu diciptakan, sama seperti uang.

Robert memberi contoh bagaimana ia menciptakan uang dari bisnis real estate. Ia membeli rumah dengan harga murah kemudian menjualnya kembali dengan harga mahal hanya dalam beberapa bulan. Ia dapat melakukannya karena melihat kesempatan pada saat krisis ekonomi, dengan kemampuan finansial yang ia miliki, ia melihat peluang tersebut, dan dengan mudah menciptakan uang dari hasil jual beli real estate. Selain real estate, ia juga memberikan contoh investasinya pada perusahaan kecil yang dikelola dengan baik hingga akhirnya menjadi perusahaan go public, dan harga sahamnya naik berkali-kali lipat.

Robert juga menjelaskan cara alamiah manusia untuk belajar, yaitu mengalami kegagalan dan bangkit, sama seperti belajar berjalan maupun bersepeda, awalnya mungkin jatuh namun pada akhirnya menjadi mahir. Banyak orang takut mengalami kegagalan dan akhirnya tidak berani mencoba. Winners are not afraid of losing, but lossers are.

Robert menyebutkan bahwa ada 2 macam investor, yaitu yang membeli produk yang sudah jadi dan investor yang "merakit" beberapa hal menjadi sesuatu yang baru. Untuk dapat menjadi investor tipe kedua, investor harus pintar melihat peluang, tahu cara meningkatkan uang, dan mengorganisir orang.

Chapter Six. Lesson 6: Work to Learn, Don't Work for Money

Pada sebuah kesempatan, Robert berbincang dengan seorang penulis yang profesional. Penulis tersebut meminta saran kepada Robert tentang bagaimana ia dapat menjual buku selaris Robert. Robert memberikan saran supaya si penulis tadi belajar marketing, karena dalam bukunya tertulis "best-selling author, bukan best-writing author". Namun, alih-alih tertarik dengan saran yang diberikan Robert, si penulis tadi bersifat defensif dan menolak saran yang diberikan, kemudia ia pergi.

Robert menyatakan bahwa banyak orang yang bertalenta, tetapi dibayar rendah karena mereka tidak dapat memasarkan talenta mereka. Mereka terlalu terspesialisasi dan menolak mempelajari hal-hal baru. Robert menyebutkan kembali 4 bidang yang harus dikuasai yaitu akuntansi, investasi, pasar, dan hukum. Ia mengikuti saran Rich Dad supaya tidak menjadi terspesialisasi, tetapi menggeneralisasi, yaitu mempelajari banyak hal.

Oleh karena itu, Robert menyarankan supaya bekerja untuk mempelajari banyak hal tersebut meskipun bayarannya lebih rendah dan harus berganti-ganti posisi dalam pekerjaan. Ia juga menyarankan supaya bekerja dengan orang yang lebih pandai dari diri kita dan mempekerjakan orang yang lebih pandai di bidangnya menjadi tim kita.

Pada bab ini, Robert juga memberikan pentingnya berbagi kepada sesama. Hal tentang berbagi tersebut didapat dari kedua ayahnya, walaupun berbeda sudut pandang tetapi keduanya sama-sama senang berbagi. Berbagi adalah rahasia kekayaan orang-orang kaya. Oleh sebab itulah, banyak organisasi seperti Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Robert dan Rich Dad memegang prinsip "Give and you shall receive, daripada receive and you shall give".

Chapter Seven. Overcoming Obstacle

Overcoming obstacle
Orang yang teredukasi secara finansial kemungkinan masih memiliki hambatan dalam mencapai kebebasan finansial. Ada 5 hal yang menjadi hambatan utama seseorang dalam memiliki aset yang besar yang dapat menghasilkan cash flow yang besar pula, hambatan itu adalah ketakutan (fear), sinisme (cynicism), kemalasan (lazyness), kebiasaan buruk (bad habit), dan kesombongan (arrogance).

Robert memberikan cara untuk menghadapi kelima hambatan dalam mencapai kebebasan finansial tersebut yaitu:

1. Menghadapi ketakutan (overcoming fear)
Permasalahan sebenarnya bukanlah ketakutan karena setiap orang memiliki rasa takut. Namun, permasalahannya adalah cara seseorang dalam menghadapi ketakutan. Setiap orang memiliki ketakutan seperti takut darah, takut ketinggian, takut kehilangan uang dalam investasi. Robert mengatakan jika memiliki ketakutan akan kehilangan uang dalam berinvestasi maka mulailah lebih awal karena memulai lebih awal akan lebih mudah mencapai kebebasan finansial dan dapat lebih banyak belajar dari kegagalan.
Robert memberikan saran supaya mengikuti sikap orang Texans dalam menghadapi risiko, kemenangan, dan kegagalan. Orang Texans menjadikan kegagalan menjadi sebuah pelajaran untuk meraih kemenangan. Failure inspires winners, failure defeat losers.

2. Menghadapi sinisme (overcoming cynicism)
Sinis yaitu tidak melihat kebaikan apa pun dan meragukan sifat baik yang ada pada sesuatu.
Robert mengatakan bahwa saat berbicara mengenai investasi, dunia seakan berteriak "langit runtuh, langit runtuh!" seperti dalam serial Chicken Little. Hal tersebut karena kebanyakan orang sinis terhadap dunia investasi. Robert memberikan contoh, seorang temannya yang mendapat kesempatan investasi real estate yang bagus, namun karena mendengar pendapat temannya (teman yang tidak tahu apa-apa tentang investasi), ia mengurungkan niatnya untuk melakukan investasi tersebut. Namun, terbukti beberapa tahun kemudian, bahwa investasi yang tidak jadi diambil tadi bakal menjadi sumber kekayaan yang berharga.
Dalam menghadapi sinisme, Robert memberikan contoh seorang kolonel bernama Harlan Sanders, yang ditolak sebanyak 1.009 kali saat menawarkan resep ayam gorengnya. Kolonel tersebut tetap berusaha walaupun dunia menolaknya, dan sekarang berdirilah KFC yang memakai resep Kolonel Sanders tersebut.

3. Menghadapi kemalasan (overcoming lazyness)
Banyak orang yang malas dalam mempelajari finansial karena pura-pura sibuk. Sibuk nonton tv, main golf, memancing, dan lain-lain. Robert memberikan contoh, seorang temannya yang menyibukkan diri bekerja luar biasa, padahal memiliki permasalahan rumah tangga. Namun alih-alih memperbaiki rumah tangganya, ia memilih sibuk di kantor. Hingga suatu hari, istri dan anaknya tidak ada di rumah ketika ia pulang. Ya, mereka memilih pergi meninggalkan temannya Robert tadi. Seperti temannya Robert tersebut kadang kita mengalihkan perhatian kita dari hal yang sebenarnya penting karena kita malas menghadapinya.
Robert memberikan resep untuk menghadapi rasa malas tersebut, yaitu sedikit serakah (little greed). Artinya, kita memiliki sedikit rasa serakah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun jangan terlalu serakah karena itu tidak baik. Jadi, saat menemui sesuatu yang seharusnya dilakukan, bertanyalah pada diri sendiri, "apa untungnya buat saya? (What's in it for me?)".

4. Menghadapi kebiasaan buruk (overcoming bad habits)
Kehidupan kita lebih mencerminkan kebiasaan kita daripada pendidikan kita.
Robert memberikan contoh kebiasaan dalam membayar tagihan. Kebanyakan orang membayar tagihan terlebih dahulu sebelum membayar diri sendiri. Namun, seperti diajarkan Rich Dad, supaya membayar diri sendiri melalui mengembangkan aset dan membayar tagihan belakangan. Kebiasaan Rich Dad ini akan memaksa kita untuk berpikir dan berupaya lebih keras, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan karena jika kita tidak membayar pasti ditagih debt collector.

5. Menghadapi kesombongan (overcoming arrogance)
Terkadang manusia terlalu sombong dalam menghadapi sesuatu yang baru, menganggapnya tidak penting, dan membuatnya tidak mau belajar sehingga membuatnya kehilangan uang. "What I know makes me money, what i don't know loses me money".
Saat kita mulai defensif terhadap subyek tertentu, carilah ahli di bidang tersebut untuk belajar atau mencari buku untuk mempelajari hal tersebut.

Chapter Eight. Getting Started

Robert memberikan 10 langkah untuk mengembangkan kekuatan dalam diri kita yang dapat kita kendalikan :
1. Find reason greater than reality: the power of spirit
Reason adalah kombinasi dari wants dan don't wants.

2. Make daily choices : the power of choice
Dengan uang di tangan kita, kitalah yang menentukan apakah menjadi kaya, miskin, atau kelas menengah. Our spending habits reflect who we are.
Robert mengajak kita untuk investasi pada pendidikan finansial. Pendidikan pada ilmu sangatlah berharga. Kitalah yang memilih, apakah mau menonton tv, beli majalah, main golf, atau ikut kelas edukasi finansial.

3. Choose friends carefully: the power of association
Robert tidak memilih teman berdasarkan laporan keuangannya. Ia belajar dari semua teman yang ia miliki. Ia juga menjelaskan fenomena dimana ketiga orang temannya yang kaya, biasanya dimintai pinjaman uang atau pekerjaan oleh temannya yang miskin, alih-alih meminta cara bagaimana mereka bisa menjadi kaya untuk dipelajari.
Ia juga memberi contoh pertemanan dengan insider trading memberikan keuntungan karena informasi yang diberikan.

4. Master a formula and then learn a new one: the power of learning quickly
Berhati-hatilah dalam mempelajari sesuatu, karena saat kamu mempelajarinya kamu pasti akan menguasainya. Hati-hati menaruh sesuatu ke dalam otakmu.
Robert mengajarkan pentingnya menguasai sesuatu yang baru jika sudah menguasai satu hal. Jangan terpaku pada hal yang sudah kamu ketahui dan malas belajar hal-hal baru.

5. Pay yourself first: the power of self-discipline
Pay yourself first diambil dari buku George Platon berjudul The Richest Man in Babylon. Banyak orang yang mengulang kata-kata itu, tetapi hanya sedikit yang melakukannya.
Pay yourself first artinya membayar diri sendiri dengan cara menambah kolom aset yang nantinya akan menghasilkan income, baru kemudian membayar semua tagihan. Investasi adalah menyisihkan, bukan menyisakan uang kita. Pay yourself first membutuhkan kedisiplinan diri yang tinggi.
Tips untuk sukses dalam "pay yourself first", yaitu:
a. Jangan terjebak hutang yang terlalu banyak
b. Ketika kekurangan uang, jangan mengurangi uang tabungan atau investasi, tetapi carilah alternatif pendapatan.

6. Pay your brokers well: the power of good advice
Membayar orang-orang profesional dengan bayaran yang baik. Dari orang-orang tersebut kita mendapatkan pemasukan. Namun, banyak orang tidak mau membayar untuk akuntan, broker real estate, dan broker saham tetapi tidak segan-segan memberikan tips restoran atau hotel sebesar 10% bahkan untuk pelayanan yang buruk.

7. Be an Indian giver: the power of getting something for nothing
Dalam investasi kita perlu bertanya, kapan uangku akan kembali?

8. Use assets to buy luxuries: the power of focus
Belilah barang mewah! Tetapi jangan gunakan hutang untuk membelinya, gunakanlah penghasilan dari asetmu. Banyak orang yang memilih jalan pintas untuk membeli barang mewah melalui hutang. Namun, cara yang benar adalah kumpulkanlah dahulu aset untuk menghasilkan income yang cukup membeli barang mewah itu. Ketika kamu membeli barang mewah itu, kolom asetmu akan terus menghasilkan uang untukmu.

9. Choose heroes: the power of myth
Milikilah orang yang sukses di bidangnya dan contohlah mereka. Robert memiliki beberapa hero seperti pemain golf ternama dan meniru cara mengayunkan tongkatnya, memiliki Warren Buffet untuk diikuti cara investasinya, Peter Lynch, George Soros, dan lainnya. Jika tokoh-tokoh itu bisa, kita juga pasti bisa.

10. Teach and you shall receive: the power of giving
Robert mengajarkan, jika kamu menginginkan sesuatu, berilah apa yang kamu inginkan kepada orang lain dan pasti apa yang kamu inginkan akan diberikan kepadamu berlipat-lipat.
I want money, so I give money, and it comes back in multiples. I want sales, so I help someone else sell something, and sales come to me. I want contacts, and I help someone else get contacts. “God does not need to receive, but humans need to give.”
So that’s why I say, “Teach, and you shall receive.” I have found that the more I teach those who want to learn, the more I learn. If you want to learn about money, teach it to someone else.

Chapter Nine. Still Want More? Here Are Some Do's

Robert memberikan beberapa to-do-list untuk memulai yang ia ajarkan, yaitu:
  1. Berhenti melakukan yang dikerjakan, istirahat, dan mulai menilai apa yang "working" dan "not working"
  2. Mencari ide-ide baru
  3. Mencari seseorang yang telah melakukan apa yang ingin kamu lakukan, ajak mereka makan siang dan bertanyalah tips dan trik untuk transaksi real estate atau saham.
  4. Mengambil kelas, membaca, dan menghadiri seminar
  5. Membuat banyak penawaran. Ketika menginginkan real estate, lihat-lihatlah dan buat penawaran.

Final Thoughts

Financial literacy
Alasan utama Robert menulis buku ini adalah untuk berbagi bagaimana meningkatkan kecerdasan finansial dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan.

Robert memberikan contoh bagaimana ia menolong temannya dalam mempersiapkan uang kuliah anaknya. Ia berdiskusi dengan temannya tersebut, temannya bertanya kepada Robert jika akan melakukan keputusan investasi dalam real estate. Akhirnya temannya tersebut dapat menyelesaikan masalahnya dan menambah kolom asetnya.

Robert mengatakan bahwa ada 3 macam income yaitu ordinary earned, passive dan portofolio income. Ordinary income is money you work for, and passive and portfolio income is money working for you.

Demikian ringkasan buku Rich Dad Poor Dad, jika kamu ingin tahu lebih dalam tentang apa yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki, silakan membaca bukunya. Jangan segan-segan untuk berdiskusi melalui kolom komentar di bawah.

Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, yuk bagikan ke teman-temanmu. Terima kasih.

Comments

Popular Posts

Ringkasan Buku Jouska The Principles of Personal Finance

Ringkasan Buku Value Investing : Beat The Market in Five Minutes