Analisis Rasio Keuangan Perusahaan

Halo teman-teman,

Kali ini saya akan berbagi mengenai analisis rasio keuangan yang sering dipakai untuk menilai kinerja perusahaan. Analisis rasio keuangan ini dapat kalian pakai untuk membandingkan kinerja antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Dalam membandingkan perusahaan dengan menggunakan rasio keuangan sebaiknya membandingkan perusahaan dalam industri yang sama, supaya apple to apple ya.

Membandingkan perusahaan tentunya harus dilakukan secara obyektif supaya tidak terjadi bias karena subyektifitas kita terhadap suatu perusahaan. Misalnya, kita sering menggunakan produk dari perusahaan A, ketika kita akan membandingkan kondisi keuangan perusahaan A,B, atau C, bisa jadi kita lebih menyukai perusahaan A dibanding perusahaan B atau C, karena kita suka terhadap produk perusahaan A. Supaya tidak terjadi bias, maka kita perlu melihat laporan keuangan. Dari laporan keuangan kita dapat mengolahnya dengan melakukan analisis rasio pada laporan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut. Analisis rasio keuangan ini memberikan hasil berupa angka yang dapat diperbandingkan antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya.

Rasio keuangan perusahaan ada bermacam-macam. Namun, pada artikel kali ini, saya akan membagikan rasio keuangan yang menurut saya sering dipakai beserta penjelasannya (penjelasan singkat aja ya hehe...). Teman-teman mungkin sering melihat rasio-rasio keuangan ini di aplikasi yang disediakan oleh sekuritas atau di Laporan Keuangan Perusahaan. Nah, disini saya akan membahas mengenai maksud dari rasio-rasio tersebut.

Secara garis besar, analisis rasio keuangan dibagi menjadi 4 (empat) kelompok yaitu Rasio Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, dan Aktivitas.  Kelompok rasio keuangan ini tentunya dibagi berdasarkan kemiripannya, yuk kita lihat lebih detail!
1. Rasio Likuiditas 
Merupakan rasio keuangan yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Ingat! Analisis rasio keuangan ini hanya untuk kewajiban jangka pendek (kewajiban yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun saja, bukan keseluruhan kewajiban).
Rasio Likuiditas ini terdiri dari :
  1. Rasio lancar (current ratio) yaitu aktiva lancar(current assets)/utang lancar (current liabilities). Semakin tinggi rasio lancar, perusahaan semakin mampu membayar utang jangka pendeknya. Rasio lancar kurang dari 1 menunjukkan perusahaan tidak mampu membayar utang jangka pendek menggunakan aset lancarnya. Ukuran normal rasio ini harus membandingkan dengan rata-rata rasio di industri untuk perusahaan sejenis.
  2. Rasio sangat lancar (quick ratio) yaitu (aktiva lancar(current assets)-inventory)/utang lancar (current liabilities). Semakin tinggi quick ratio, perusahaan semakin mampu membayar utang jangka pendeknya. Quick ratio sebenarnya sama dengan current ratio kecuali bagian inventory (persediaan) yang dihilangkan dari aset lancar karena inventory dianggap tidak begitu liquid.
  3. Rasio kas (cash ratio) yaitu (kas+bank)/utang lancar. Semakin tinggi rasio kas, perusahaan semakin mampu membayar utang jangka pendeknya. Rasio kas hanya memperhitungkan kas dan setara kas untuk membayar utang jangka pendek. Kas dan setara kas merupakan bagian aset lancar yang sangat likuid. Ukuran normal rasio ini juga harus mempertimbangkan rata-rata industri. Kekurangan kas rawan tidak bisa membayar hutang, terlalu banyak kas juga mengindikasikan banyak dana menganggur.
  4. Rasio perputaran kas yaitu penjualan bersih/modal kerja bersih. Rasio perputaran kas digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas dalam membayar utang dan biaya-biaya yang berhubungan dengan penjualan. Rasio ini hanya memperhitungkan modal kerja bersih (tidak memasukkan hutang) untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Rasio perputaran kas sama dengan 1 menunjukkan bahwa modal kerja bersih dapat digunakan untuk membiayai satu kali penjualan. Rasio 0,5 artinya modal bersih hanya mampu mengakomodir setengah biaya penjualan (butuh 2 kali perputaran kas untuk menutup biaya penjualan).
2. Rasio Solvabilitas
Merupakan rasio keuangan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Ingat! kewajiban jangka pendek dan panjang ya, bukan jangka panjang saja.
Rasio solvabilitas ini terdiri dari:
  1. Debt to asset ratio (debt ratio) yaitu total debt/total assets. Semakin tinggi debt ratio, artinya pendanaan dengan utang semakin banyak. Standar pengukuran nilai debt ratio harus membandingkan dengan rata-rata industri perusahaan sejenis. Debt ratio 39% artinya 39% aset perusahaan dibiayai dengan utang.
  2. Debt to equity ratio (DER) yaitu total debt/total equity. Semakin tinggi DER maka pendanaan dengan utang semakin tinggi karena rasio ini membandingkan utang dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan. DER 65% artinya pendanaan perusahaan 65% dari utang dan 35% dari ekuitas.
3. Rasio Profitabilitas
Merupakan rasio untuk menilai perusahaan dalam mencari keuntungan.
Rasio profotabilitas terdiri dari:
  1. Profit margin on sales yaitu (penjualan(sales)-HPP)/penjualan(sales). Rasio ini untuk mengetahui persentase laba perusahaan setelah memperhitungkan HPP (COGS). Semakin tinggi rasio ini maka laba kotor perusahaan semakin tinggi. Rasio 0,51 artinya margin laba kotor sebesar 51% terhadap penjualan.
  2. Net profit margin on sales (NPM) yaitu earning after interest and tax/penjualan(sales). Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan terhadap penjualan. Semakin tinggi rasio ini maka pendapatan bersih semakin tinggi. Jika rasio profit margin on sales hanya hanya membandingkan biaya langsung terhadap penjualan (COGS), rasio net profit margin ini juga memperhitungkan biaya tidak langsung yang timbul seperti biaya administrasi maupun pajak. Bisa jadi perusahaan memperoleh laba kotor yang lebih tinggi dari periode sebelumnya tetapi laba bersihnya menurun dibanding periode sebelumnya. Misalnya, perusahaan berhutang dalam mata uang asing, naiknya nilai tukar saat jatuh tempo pembayaran akan menambah beban bunga yang harus dibayar perusahaan. Jika perusahaan mempunyai nilai hutang yang tinggi maka kenaikan nilai kurs tersebut akan berdampak signifikan terhadap kenaikan beban bunga. Rasio 0,22 artinya laba bersih perusahaan 22% dari penjualan.
  3. Return on investment (ROI) yaitu earning after interest and tax/total assets. Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan investasi perusahaan, menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik berupa pinjaman atau ekuitas. Semakin kecil rasio ini berarti semakin kurang baik. Rasio 0,22 artinya dari pendanaan (baik berupa utang maupun ekuitas) mampu menghasilkan laba sebesar 22%.
  4. Return on equity (ROE) yaitu earning after interest and tax/equity. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
  5. Earning per share (EPS) yaitu earning after interest and tax/total saham biasa yang beredar. Rasio ini mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
4. Rasio Aktivitas
Merupakan rasio untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya.
Rasio aktivitas terdiri dari:
  1. Perputaran piutang yaitu penjualan kredit/rata-rata piutang. Rasio ini mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode. Semakin tinggi rasio semakin baik, artinya modal kerja yang ditanam dalam piutang makin rendah.
  2. Perputaran persediaan yaitu HPP/rata-rata persediaan. Rasio ini untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan (inventory) berputar dalam satu periode. Semakin kecil rasio ini semakin buruk.
Demikian analisis rasio keuangan yang dapat kita gunakan untuk menilai suatu perusahaan. Bagi investor saham, analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk memilih saham apa yang akan dibeli. Dalam berbagai teknik investasi saham, analisis rasio keuangan merupakan salah satu faktor yang sangat berguna untuk menilai suatu saham.

Semoga bermanfaat ya! Yuk share artikel ini ke teman-teman yang lain supaya banyak yang tahu.
Terima kasih.


Rekomendasi:

Comments

  1. Penting dipahami orang yang baru saja memiliki perusahaan sebelum terjun ke dunia bisnis

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts

Ringkasan Buku Jouska The Principles of Personal Finance

Ringkasan Buku Value Investing : Beat The Market in Five Minutes

Ringkasan Buku Rich Dad Poor Dad